Pembahasan Mengenai Wayang, Seni Budaya Pertunjukan Asli Indonesia

11

Seperti yang kita tahu, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan aneka ragam seni dan budaya yang ada di dunia. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya ragam budaya yang masih sering kita temui dimanapun itu selama kita berada di Indonesia. Mulai dari kesenian budaya berupa acara adat bahkan juga sampai dengan seni budaya pertunjukan.

Salah satu seni pertunjukan yang bisa dibilang sangat populer di Indonesia salah satunya adalah wayang. Wayang merupakan kesenian yang sangat menarik sekali untuk kita tonton. Karena pertunjukan wayang biasanya menyajikan sebuah cerita mengenai legenda maupun sejarah-sejarah yang ada di Indonesia.

Meskipun di masa sekarang ini wayang bisa dibilang sudah jarang kita temui, namun wayang adalah salah satu hal yang harus kita banggakan karena merupakan seni yang sangat melekat bagi masyarakat Indonesia. Untuk itu, ada baiknya bagi kita untuk mengetahui hal-hal yang ada mengenai wayang. Untuk lebih jelasnya, yuk simak ulasan berikut ini.

Apa Itu Wayang

22

Arti dari Wayang sendiri ialah merupakan sebuah seni pertunjukan yang berupa drama yang khas. Seni pertunjukan ini meliputi beberapa bagian yaitu seni suara, seni sastra, seni musik, seni tutur, seni rupa, serta seni-seni lainnya. Ada beberapa pihak yang beranggapan, bahwa sebenarnya pertunjukan wayang bukan hanya sekedar kesenian semata, akan tetapi mengandung lambang-lambang keramat yang ada di dalamnya. Sejak abad ke-19 sampai dengan sekarang, wayang telah menjadi pokok pembahasan serta dideskripsikan oleh para ahli.

Bahkan, para pakar dari berbagai disiplin ilmu sampai tidak bosan-bosannya untuk terus-menerus membahas seni pewayangan dari waktu ke waktu, karena wayang adalah wahana yang dapat memberikan pengetahuan bagi kehidupan manusia dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai yang terkandung dalam seni perwayangan sendiri telah terbukti dapat dipergunakan untuk memasyarakatkan berbagai pedoman hidup yang ada, bermacam acuan norma kehidupan, bahkan juga beraneka program pemerintah yang ada di semua sektor pembangunan.

Secara Filosofis Wayang dapat diartikan juga sebagai suatu hal yang merupakan sebuah bayangan, gambaran atau lukisan yang mengisahkan hal-hal mengenai kehidupan yang ada di alam semesta. Di dalam wayang juga digambarkan bukan hanya mengenai manusia, namun juga kehidupan manusia dalam kaitannya dengan manusia lain, alam, dan juga Tuhan.

Alam semesta merupakan satu kesatuan yang serasi, serta tidak lepas satu hal dengan yang lain dan senantiasa saling berhubungan. Unsur yang satu dengan yang lain di dalam alam semesta akan saling berusaha keras untuk menuju ke arah keseimbangan. Jika salah satu unsur yang ada tersebut goncang, maka goncanglah keseluruhan alam sebagai suatu keutuhan (system kesejagadan).

Sejarah Perkembangan Wayang

3

Berdasarkan informasi yang diambil dari sejarah yang ada, asal usul mengenai wayang sendiri dianggap telah ada semenjak 1500 tahun sebelum Masehi. Wayang sendiri lahir dari para cendikia nenek moyang suku Jawa yang ada pada masa silam. Pada masa itu, wayang diperkirakan hanya terbuat dari rerumputan yang diikat sehingga bentuknya masih sangat sederhana sekali. Wayang dimainkan dalam ritual pemujaan roh nenek moyang dan juga digunakan dalam upacara-upacara adat Jawa.

Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli sudah ada bahkan sebelum kebudayaan Hindu masuk ke Indonesia dan mulai berkembang pada zaman Hindu-Jawa. Pertunjukan kesenian wayang merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa, yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dinamisme pada masa itu.

Menurut isi yang ada dari Kitab Centini, mengenai asal-usul wayang purwa disebutkan bahwa kesenian wayang mula-mula sekali diciptakan oleh seorang Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang/Kediri. Pada masa sekitar abad ke-10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar.

Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Cerita Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Bhatara Guru atau Sang Hyang Jagadnata, yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.

Pada zaman masa kerajaan Majapahit usaha melukiskan gambaran wayang di atas kertas disempurnakan dengan ditambah bagian-bagian kecil yang digulung menjadi satu. Wayang berbentuk gulungan tersebut, bilamana akan hendak dimainkan maka gulungan harus dibeber. Oleh karena itu, wayang jenis ini biasa disebut wayang beber. Semenjak terciptanya wayang beber tersebut terlihat pula bahwa lingkup kesenian wayang tidak semata-mata merupakan kesenian keraton, tetapi malah meluas ke lingkungan di luar istana walau pun sifatnya masih sangat terbatas.

Sejak saat itu masyarakat di luar lingkungan keraton sempat pula untuk ikut serta menikmati keindahannya. Dan pada saat pagelaran dilakukan di dalam istana, diiringi dengan gamelan laras slendro. Tetapi bilamana pagelaran dilakukan di luar istana, maka iringannya hanya berupa rebab dan lakonnya pun terbatas pada lakon Murwakala, yaitu lakon khusus untuk upacara ruwatan.

Pada zaman pemerintahan Sultan Syah Alam Akbar III atau Sultan Trenggana, perwujudan wayang kulit semakin semarak. Bentuk-bentuk baku dari wayang mulai diciptakan. Misalnya bentuk mata, diperkenalkan dua macam bentuk liyepan atau gambaran mata yang mirip gabah padi atau mirip orang yang sedang mengantuk. Dan mata telengan yaitu mata wayang yang berbentuk bundar. Penampilan wayang lebih semarak lagi karena diwarnai dengan cat yang bewarna keemasan.

Untuk melengkapi jenis-jenis dari wayang yang sudah ada, Sunan Kudus menciptakan wayang golek yang terbuat dari kayu. Lakon pakemnya sendiri diambil dari wayang purwa dan diiringi dengan gamelan slendro, tetapi hanya terdiri dari gong, kenong, ketuk, kendang, kecer, dan rebab.

Sunan Kalijaga tidak ketinggalan juga, untuk menyemarakkan perkembangan seni pedalangan pada masa itu dengan menciptakan topeng yang dibuat dari kayu. Pokok ceritanya diambil dari pakem wayang gedog yang akhirnya disebut dengan topeng panji. Bentuk mata dari topeng tersebut dibuat mirip dengan wayang purwa. Pada masa Kerajaan Mataram diperintah oleh Panembahan Senapati atau Sutawijaya, diadakan perbaikan bentuk wayang purwa dan wayang gedog. Wayang ditatah halus dan wayang gedog dilengkapi dengan keris.

Pada tahun 1731 Sultan Amangkurat I menciptakan wayang dalam bentuk lain, yaitu wayang wong. Wayang wong adalah wayang yang terdiri dari manusia dengan mempergunakan perangkat atau pakaian yang dibuat mirip dengan pakaian yang ada pada wayang kulit. Dalam pagelaran dipergunakan pakem yang berpangkal dari Serat Ramayana dan Serat Mahabharata. Perbedaan wayang wong dengan wayang topeng adalah: pada waktu main, pelaku dari wayang wong aktif berdialog; sedangkan pada wayang topeng dialog para pelakunya dilakukan oleh dalang.

Wayang kini kian semakin dikenal luas. Beberapa jenis wayang juga sudah dikembangkan untuk memperkaya khasanah dunia perwayangan. Beberapa contoh wayang tersebut misalnya wayang golek, wayang orang, Wayang Kulit, Wayang Kayu, Wayang Orang, Wayang Klitik dan Wayang Madya.

Jenis – Jenis Wayang

Dari yang sudah disebutkan di atas, kita tahu bahwa tidak hanya ada satu jenis wayang saja, melainkan ada banyak jenis wayang. Untuk itu, berikut ini telah dirangkum beberapa wayang yang ada berdasarkan jenisnya :

  • Wayang Purwa

4

Yang pertama adalah wayang purwa. Wayang Purwa atau yang biasa juga disebut dengan wayang kulit karena terbuat dari kulit lembu. Wayang kulit ini dimainkan oleh dalang yang berada dibalik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih sementara belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak. Sehingga penonton hanya dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir.

Secara umum, wayang mengambil cerita dari naskah yang menceritakan kisah tentang Mahabharata dan Ramayana. Dalam wayang purwa berdasarkan ukurannya dari yang paling kecil sampai besar dapat dibedakan lagi menjadi Wayang Kaper, Wayang Kidang Kencanan, Wayang Pedalangan, dan Wayang Ageng.

  • Wayang Golek

44

Wayang Golek merupakan wayang yang terbuat dari boneka yang berbahan dasar kayu, kebanyakan wayang golek berpakaian jubah (baju panjang) tanpa digeraikan secara bebas dan terbuat dari kayu yang berbentuk bulat seperti lazimnya boneka pada umumnya.

Sumber ceritanya sendiri diambil dari sejarah, misalnya cerita Untung Surapati, Batavia, Sultan Agung, dan lain-lain. Wayang golek tidak menggunakan kelir seperti yang ada pada wayang kulit. Wayang ini sangat populer di tataran tanah sunda, yaitu tepatnya di daerah Jawa Barat.

  • Wayang Madya

5

Untuk jenis wayang yang berikutnya ada Wayang Madya. Wayang Madya sendiri adalah wayang yang diciptakan oleh K.G, Mangkunegara IV pada abad 18. Wayang ini merupakan perpaduan dari Wayang Purwa dengan Wayang Gedog. Sumber ceritanya diambil dari cerita pandawa setelah perang Bharatayuda, misalnya Prabu Parikesit. Sekarang ini Wayang Madya jarang ditampilkan karena masyarakat sendiri telah mendarah daging pada Wayang Purwa (kulit).

  • Wayang Klitik

D1RTX7 INDONESIA, Java, wayang kelitik puppet made of painted wood used for the wayang (shadow theater); Private Coll.

Wayang Klitik adalah wayang yang terbuat dari bahan dasar kayu. Wayang klitik ini bentuknya berbeda dengan wayang golek yang mirip dengan boneka, wayang klitik berbentuk pipih seperti wayang kulit. Untuk cerita yang ditampilkan pada pagelaran wayang klitik diambil dari siklus cerita Panji dan Damarwulan. Wayang Klitik tidak ditancapkan pada pelepah pisang, melainkan menggunakan kayu yang sudah diberikan lubang-lubang.

  • Wayang Gedog

7

Wayang Gedog merupakan jenis wayang yang diciptakan oleh Sunan Giri pada tahun 1485. Wayang ini sendiri menceritakan tentang Panji, yaitu sebuah kisah yang menceritakan latar belakang raja-raja yang ada di kerajaan Jenggala, Kediri, dan Singasari. Bentuk wayang gedog ini sendiri mirip dengan wayang purwa, tetapi tokoh-tokoh rajanya tidak digunakan gelung supit urang dan tokoh raksasa ataupun kera.

  • Wayang Beber

8

Wayang beber adalah wayang yang berbentuk seperti lembaran-lembaran (beberan) yang terbuat dari kain atau kulit lembu, dan dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi tokoh-tokoh wayang. Pada tiap-tiap beberan merupakan satu adegan cerita. Jika tidak dimainkan, wayang bisa digulung. Wayang ini dibuat pada zaman kerajaan Majapahit. Namun, konon para Wali Songo memodifikasi wayang ini yang digunakan untuk menyebarkan agama islam dengan diubah menjadi wayang kulit, hal ini dikarenakan dalam ajawan islam mengharamkan bentuk gambar dan patung.

  • Wayang Suluh

0

Selanjutnya ada wayang suluh yang merupakan perkembangan wayang modern. Pementasan wayang ini tergolong wayang modern, karena biasanya untuk penerangan masyarakat. Wayang ini terbuat dari kulit yang diberi pakaian lengkap lazimnya manusia. Semetara ceritanya diambil dari kisah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Wayang ini diciptakan oleh seorang budayawan asal Surakarta R. M Sutarto Harjowahono pada taun 1920.

  • Wayang Orang

00

Wayang Orang adalah cerita wayang purwa yang dipentaskan langsung oleh orang atau manusia dengan busana yang terlihat mirip seperti busana atau pakaian yang ada pada wayang. Sumbernya pun sama dengan wayang purwa. Wayang orang diciptakan oleh Sultan Hamangkurat I pada tahun 1731. Di Jawa pagelaran ini disebut dengan Wayang Wong (Orang). Dalam pertunjukan Wayang Orang, fungsi dalang yang merupakan sutradara tidak seluas seperti Wayang Kulit, dalang hanya bertindak sebagai perpindahan adegan.

Unsur – Unsur Yang Terkandung Pada Wayang

000

Wayang memiliki unsur-unsur kandungan yang membuatnya menjadi salah satu kesenian yang patut untuk dilestarikan dan diharuskan untuk tetap ada. Apa saja unsur-unsur tersebut, berikut penjelasannya.

  • Wayang Memiliki Unsur Yang Bersifat “Momot Kamot”.
    Wayang merupakan media pertunjukan yang dapat memuat segala aspek yang ada dalam kehidupan manusia (momot kamot). Pemikiran manusia, baik hal itu terkait dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum maupun pertahanan keamanan, semua hal tersebut dapat termuat di dalam wayang.
  • Wayang Mengandung Unsur Tatanan, Tuntunan, dan Tontonan.
    Di dalam wayang dikandung tatanan, yaitu merupakan suatu norma atau konvensi yang mengandung etika (filsafat moral). Norma atau konvensi tersebut telah disepakati dan dijadikan pedoman bagi para seniman dalang. Di dalam pertunjukan wayang dikandung aturan main beserta tata cara mendalang dan bagaimana memainkan wayang, secara turun temurun dan mentradisi, lama kelamaan menjadi sesuatu yang disepakati sebagai pedoman (konvensi).
  • Wayang Merupakan Teater Total.
    Pertunjukan wayang dapat dipandang sebagai sebuah pertunjukan teater yang total, yang mana hal tersebut artinya menyajikan aspek-aspek seni secara total (seni drama, seni musik, seni gerak tari, seni sastra, dan seni rupa). Dialog antar tokoh (antawecana), ekspresi narasi (janturan, pocapan, carita), suluk, kombangan, dhodhogan, kepyakan, adalah unsur-unsur penting dalam hal pendramaan.

Sekilas Mengenai Dalang, Orang Yang Mengendalikan Wayang

9

Berdasarkan informasi yang ada di wikipedia, Kata Dalang ada yang mengartikan bahwa kata tersebut berasal dari kata Dahyang, yang berarti juru penyembuh berbagai macam penyakit. Dalang dalam “jarwo dhosok” diartikan pula sebagai “ngudal piwulang” (membeberkan ilmu), memberikan pencerahan kepada para penontonya. Untuk itu seorang dalang harus mempunyai bekal keilmuan yang sangat banyak. Berbagai bidang ilmu tentunya harus dipelajari meski hanya sedikit, sehingga ketika dalam membangun isi dari ceritera bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan nilai-nilai kekinian.

Dalang dalam dunia pewayangan dapat diartikan sebagai seseorang yang mempunyai keahlian khusus untuk memainkan boneka wayang (ndalang). Keahlian ini biasanya diperoleh dari bakat turun-temurun dari leluhurnya. Seorang anak dalang akan bisa mendalang atau memainkan wayang tanpa perlu belajar secara formal. Ia akan mengikuti ayahnya selagi mendalang dengan membawakan peralatan, menata panggung, mengatur wayang (nyimping), menjadi pengrawit, atau duduk di belakang ayahnya untuk membantu mempersiapkan wayang yang akan dimainkan.

Di dalam sebuah pagelaran wayang, dalang menempati peran dan posisi yang sangat sentral. Ungkapan Jawa dhalange mangkel, wayange dipendem menunjukkan betapa besar peranan seorang dalang dalam pagelaran wayang. Dalang merupakan sutradara sekaligus tokoh utama yang ada dalam pagelaran. Ia adalah penutur kisah, penyanyi lagu (suluk) yang mengajak memahami suasana pada saat-saat tertentu, pemimpin suara gamelan yang mengiringi, dan di atas segalanya, dalang merupakan pemberi jiwa pada wayang atau pelaku-pelaku manusianya.

Pada zaman dahulu, peranan dalang tidak terbatas sampai disitu. Sesuai dengan fungsi pewayangan yang digunakan sebagai upacara ritual dan keagamaan, yaitu untuk menyembah atau menghormati arwah para leluhur, dalang pun dipandang sebagai penghubung antara manusia dengan jagat besar (makro-kosmos), antara komunitas dengan dunia spiritual. Oleh karena itu, dalang mempunyai tempat dan kedudukan yang terhormat dalam kehidupan masyarakat.

Sebagai seorang seniman, dalang sangat dituntut penguasaannya atas unsur-unsur seni dalam perdalangan, yang mencakup seni drama, seni rupa, seni kriya, seni sastra, seni suara, seni karawitan dan juga seni gaya. Dalang pun juga harus menguasai 12 bidang keahlian yang merupakan persyaratan klasik tradisional yang sangat berat tetapi mendasar, yaitu : Antawacana, Renggep, Enges, Tutug, Pandai dalam sabetan, Pandai melawak; Pandai amardawa lagu, Pandai amardi basa, Faham Kawi Radya, Faham Parama Kawi, Faham Parama Sastra, dan Faham Awi Carita.

Dengan menguasai 12 persyaratan mendasar tersebut, sangat diharapkan dalang menjadi tangguh dan sanggit, yang mampu menangkap selera dan suasana penonton, sanggup dan peka terhadap situasi dan kondisi masyarakat di mana wayang dipagelarkan.

Sebagai seniman, dalang juga dapat ikut serta memupuk apresiasi seni masyarakat penontonnya dalam mencintai dan melestarikan budaya tradisi, sehingga penetrasi kebudayaan asing yang negatif dapat dicegah ataupun dikurangi. Usaha ini akan berjalan efektif apabila dalang terus berusaha membekali diri serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, sehingga ia mampu mengajak masyarakat penontonnya kepada wawasan pemikiran yang lebih luas dan juga maju.

Nah, sekarang kamu sudah tahu kan hal-hal mengenai wayang. Yuk sama-sama kita melestarikan budaya bangsa yang satu ini agar tidak hilang ditelan masa. Memang, untuk sekarang ini sudah jarang sekali terlihat pertunjukan-pertunjukan wayang yang ada seperti dulu. Tapi setidaknya dengan berbagi informasi mengenai wayang, itu merupakan salah satu usaha yang telah kita lakukan untuk mencoba melestarikan kebudayaan kita ini.

Related posts