Ternyata Indonesia Termasuk Negara Kanibalisme, Yuk Simak Selengkapnya Disini

z

Kanibalisme, satu kata yang cukup untuk bisa membuat orang yang mendengarnya menjadi merinding membayangkan makhluk yang memakan makhluk lainnya yang sejenis. Kengerian dan rasa jijik yang menjadi satu ketika kita membayangkan sebuah kanibalisme yang terjadi.

Mungkin sebagian besar dari ita ada yang ingat dengan Sumanto yang sempat menjadi berita hebat di Indonesia karena melakukan praktek kanibalisme. Dan tentunya juga perilaku kanibalisme tidak hanya terjadi di Indonesia saja melainkan juga dunia dan sudah banyak kejadian yang menyangkut praktek kanibalisme ini.

Sebenarnya apa sih kanibalisme ini? Dan apakah ada faktor-faktor tertentu yang bisa menyebabkan seseorang bisa melakukan hal kanibalisme? Untuk mengetahuinya, yuk sama-sama kita simak ulasannya berikut ini.

Apa Itu Kanibalisme

2

Menurut Wikipedia, Kanibalisme merupakan sebuah fenomena di mana satu makhluk hidup makan makhluk sejenis lainnya. Misalkan anjing yang memakan anjing atau manusia yang memakan manusia. Kadang-kadang fenomena ini disebut anthropophagus (Bahasa Yunani anthrôpos, “manusia” dan phagein, “makan”). Secara etimologis kata “kanibal” merupakan kata pungutan dari Bahasa Belanda yang pada gilirannya memungut dari Bahasa Spanyol yaitu “canibal” yang berarti orang dari Karibia. Di daerah ini oleh penjelajah ditemukan fenomena ini.

Selain di Karibia, di Amerika hal ini pada zaman dahulu kala banyak terjadi pula, misalnya di antara suku Anasazi, Bangsa Maya dan Aztek. Selain itu di Asia-Pasifik, kanibalisme juga pernah ditemukan. Antara lain di antara suku Batak di Sumatera Utara, suku Dayak di Kalimantan, suku Asmat di Papua, beberapa suku lainnya di Papua Barat maupun Timur, Fiji dan daerah Melanesia lainnya. Di Papua Nugini di antara suku Fore, kanibalisme menimbulkan penyakit kuru.

Ada beberapa petunjuk bahwa kanibalisme secara ritual juga pernah muncul di pulau Jawa, Bali dan Sulawesi. Jadi secara praktis hampir di seluruh Indonesia.

Pada zaman modern, kanibalisme secara insidentil pernah muncul di Amerika Serikat, pada kasus Ekspedisi Donner, Ukraina pada tahun 1930-an, di Leningrad pada Perang Dunia II dan di Andes ketika ada kecelakaan pesawat terbang pada tahun 1972. Kasus terakhir ini pernah dibuatkan film Alive pada tahun 1992.

Bukti Sejarah Kanibalisme

May 1, 2013: Strike marks are seen on the skull of "Jane of Jamestown" during a news conference at the Smithsonian's National Museum of Natural History in Washington.

Ilmuwan untuk pertama kalinya berhasil mengungkap bukti pertama kanibalisme yang dilakukan oleh imigran Inggris di Amerika Serikat, tepatnya di kota Jamestown. Mereka menemukan kerangka milik gadis berusia 14 tahun yang dipastikan merupakan korban kanibalisme.

Para arkeolog dari Smithsonian National Museum of Natural History mengungkapkan, gadis berusia 14 tahun yang menjadi korban kanibalisme itu dikanibalisasi pada musim dingin antara tahun 1609 hingga 1610. Gadis itu kemudian dinamai Jane.

Kerangka Jane ditemukan pada penggalian yang dilakukan pada tahun 2012. Kerangka ditemukan bersama dengan sampah dan juga tulang hewan yang diduga kuat juga dikonsumsi oleh para penduduk Jamestown pada masa tersebut.

Douglas Oswey dari Smithsonian mengungkapkan, bukti kanibalisme tampak jelas pada kerangka gadis tersebut. Ada terdapat tanda pemotongan bagian tubuh, upaya paksa membuka bagian tengkorak serta bekas pemotongan daging.

Sejarah memang menceritakan bahwa pada periode Jane dimakan rakyat Jamestown memang sedang mengalami kelaparan. Masa itu adalah periode terparah dalam 800 tahun terakhir. Sejumlah 6.000 orang yang hidup antara tahun 1607-1625 mengalami kelaparan.

George Percy, pimpinan koloni pertama di Jamestown, pernah menulis, “Ini adalah dunia yang penuh kesengsaraan.” Ia mendeskripsikan adanya manusia yang menggali kubur untuk mengonsumsi mayat. Tak ada lagi alternatif makanan yang tersisa untuk mempertahankan hidup.

Sebuah tulisan dari Kapten John Smith, yang juga hidup pada masa itu, menceritakan betapa tega manusia membunuh sesamanya. Ada yang tega membunuh istrinya sendiri, mengasinkan, atau membumbui sebelum memakannya.

Oswey mengatakan bahwa adanya kanibalisme pada periode kelaparan tersebut sebelumnya sempat diragukan oleh para sejarawan. Namun, kerangka Jane memberi bukti nyata bahwa kanibalisme memang terjadi.

“Ini benar-benar menunjukkan bukti nyata adanya pemotongan bagian tubuh dan menghilangkan jaringannya untuk dikonsumsi,” tegas Oswey seperti dikutip oleh Daily Mail, Rabu (1/5/2013).

Sejarah Kanibalisme Di Indonesia

k

Tentu mengerikan rasanya membayangkan bagaimana terjadinya praktek kanibalisme ini. Fenomena yang satu ini pun tak luput dari pertentangan yang ada di dunia karena mrupakan tindakan yang keji. Dan sejatinya praktek kanibalisme ini sudah terjadi sejak berabad-abad yang lalu.

Dan ternyata, kanibalisme juga pernah ada di Indonesia dan tercatat dalam sejarah. Berikut ini merupakan penjelasannya :

  • Kanibalisme Untuk Hukuman Suku Korowai Papua Tahun 1970

Suku Korowai adalah suku yang baru ditemukan keberadaannya sekitar 30 tahun yang lalu di pedalaman Papua, Indonesia dan berpopulasi sekitar 3000 orang. Suku terasing ini hidup di rumah yang dibangun di atas pohon yang disebut Rumah Tinggi. Beberapa rumah mereka bahkan bisa mencapai ketinggian sampai 50 meter dari permukaan tanah. Suku Korowai adalah salah satu suku di daratan Papua yang tidak menggunakan koteka. Suku ini dipercaya masih kerap melakukan praktik kanibalisme hingga sekarang.

Masyarakat Korowai tidak mengonsumsi daging manusia secara sembarangan. Sebab, berdasarkan kepercayaan setempat, suku Korowai hanya membunuh manusia yang dianggap melanggar aturan terhadap kepercayaan mereka. Misalnya, jika seseorang diketahui sebagai tukang sihir atau disebut khuakhua. Warga yang dicurigai sebagai khuakhua akan diadili. Jika banyak bukti kuat yang memberatkannya, dia akan segera dibunuh dan dimakan. Anggota tubuh khuakhua yang mati akan dibagi-bagikan kepada semua warga. Otaknya akan dimakan selagi hangat. Orang yang membunuh khuakhua berhak menyimpan tengkoraknya.

Jadi, bagi masyarakat Korowai, membunuh dan memakan daging manusia adalah bagian dari sistem peradilan pidana mereka. Setelah memakan habis tubuh khuakhua, mereka akan memukul-mukul dinding rumah tinggi mereka dengan kayu sambil bernyanyi semalaman. Sampai tahun 1970, mereka tidak mengetahui keberadaan setiap orang selain kelompok mereka dan saat ini mereka telah berbaur dengan masyarakat sekitar hingga praktik kanibalisme sudah semakin menipis.

  • Kanibalisme Abad ke-12 Ditemukan Seorang Arkeolog Tahun 1935

Pengalaman yang sama dialami arkeolog Friedrich Schnitger. Ketika melakukan penelitian di Padang Lawas, Sumatra Selatan pada 1935, dia menemukan peninggalan berupa sebuah candi yang dipercaya merupakan sisa-sisa kerajaan Poli abad ke-12. Menurutnya, kerajaan ini berasal dari sebuah sekte yang sangat mengerikan bernama Sekte Bhairawa. Sekte ini memuja dewa-dewa yang berwujud mengerikan, mirip iblis. Mereka memiliki ritual memakan daging manusia pada upacara pemujaan di kuburan.

Menurut Schnitger dalam “Reruntuhan Kerajaan Tak Bernama,” biasanya upacara ini dimulai beberapa jam setelah matahari terbenam. Manusia-manusia hidup yang akan dikorbankan dibaringkan. Kemudian sang pendeta akan mengambil jantungnya, dan menuangkan darah ke sebuah tengkorak dan meminumnya sampai habis. “Sebelum kedatangan bangsa Eropa, kanibalisme adalah hal lazim,” tulis Friedrich Schnitger, termuat dalam Sumatera Tempo Doeloe. “Seperti kami, siapa pun yang kenal betul dengan negeri dan penduduk Sumatera Utara pasti paham bagaimana ilmu sihir, jampi-jampi, dan sejenisnya, memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat ini.”

  • Suku Kanibal Kalimantan Dalam Perjalanan Carl Bock Tahun 1870-an

Carl Bock adalah seorang penjelajah dari Norwegia yang terpukau melihat kebiasaan hidup salah satu suku di Kalimantan. Dahulu orang menyebutnya dengan Suku Dayak Tring. Orang-orang dari suku ini memiliki kebiasaan memakan orang hingga dibenci oleh suku-suku di sekitarnya. Bahkan Sultan yang menguasai kawan itu meminta Carl Bock untuk pulang dan tidak melanjutkan perjalanannya.

Namun Carl Bock tetap bersikeras hingga akhirnya bertemu dengan suku yang ia cari. Carl Bock akhirnya sempat berbincang dengan wanita pendeta dari suku tersebut. Ia mengatakan kepada Carl Bock jika bagian talapak tangan adalah bagian terbaik yang bisa disantap. Selain itu bagian lutut dan otak merupakan sajian yang terlezat bagi suku Tring ini. Sahabat anehdidunia.com kisah perjalanan dari Carl Bock ini diterbitkan dalam sebuah buku The Head Hunters Borneo yang terbit di tahun 1879.

Lambat laun praktek kanibal di Indonesia semakin habis setelah Belanda melarangnya. Hingga pada akhirnya di abad ke-19 praktik mengerikan ini dianggap melanggar hukum. Di era modern seperti sekarang praktik kanibalisme mungkin sudah mulai hilang. Namun di beberapa tempat terutama di daerah pelosok, kanibalisme masih dianggap sesuatu yang sakral. Karena praktik ini dianggap sebagai perwujudan perpindahan energi kehidupan.

  • Kisah Travel Ida Laura Reyer Pfeiffer Yang Nyaris Dimangsa Suku Kanibal Tahun 1852

Ida Laura adalah seorang pelancong dari Eropa yang penasaran dengan suku kanibal di Sumatra. Ia mengetahuinya dari sebuah pemberitaan koran hingga memutuskan hijrah jauh ke Sumatra. Akhirnya ia tiba di daerah dekat Toba dan meminta izin penguasa setempat untuk melakukan riset dan perjalanan. Awalnya Ida disuruh mengurungkan niatnya namun ia tetap melakukan perjalanan dan didampingi oleh pemandu yang merupakan sewaannya.

Mereka akhirnya tiba di bukit Silidong, dekat dengan Danau Toba. Di sana mereka dihadang oleh sekelompok orang bertombak. Ida selamat karena pemandu melakukan negosisasi dengan baik. Selanjutnya mereka bertemu lagi dengan pria bertombak yang lebih ganas. Ida nyaris dibunuh meski ia selamat lagi. Sebelum suku itu melakukan kekerasan Ida berusaha berkata jika dagingnya alot dan tidak enak. Akhirnya Ida justru diajak ke kampung suku itu dan menyaksikan pemandangan mengerikan. Dalam ceritanya, Ida mengatakan jika orang yang ditangkap akan diambil darahnya untuk diawetkan. Darah itu nantinya akan disantap dengan nasi. Selain darah daging juga akan dimasak dan dimakan bersama-sama dalam acara adat.

  • Kanibalisme Sebagai Hukuman Bagi Orang yang Bersalah Tahun 1844

Selain sebagai sebuah ritual, kanibalisme juga dilakukan sebagai hukuman bagi yang kalah perang atau melanggar peraturan. Seorang peneliti bernama Oscar von Kessel, melakukan penelitian tentang masyarakat Batak pada 1844. Menurutnya, masyarakat Batak menganggap kanibalisme sebagai perbuatan hukum bagi pelanggaran seperti pencurian, perzinaan, mata-mata, atau pengkhianatan. Garam, merica merah dan lemon harus disediakan oleh keluarga korban sebagai tanda menerima keputusan hukuman itu dan tidak lagi memikirkan balas dendam.

Marco Polo juga menulis kisah ini. Ia bertutur jika setelah dibunuh, mayat akan dimakan saat itu juga. Sahabat anehdidunia.com dengan begitu hukuman akan selesai dan tidak akan memikirkan lagi balas dendam yang dipandang menyusahkan. Dalam kasus lain, kanibalisme berlaku untuk seorang yang dituduh mata-mata dan tawanan perang. “Mereka dapat menangkap orang asing yang bukan berasal dari daerahnya, mereka akan menahan orang itu. Jika orang itu tidak sanggup menebus dirinya sendiri, mereka akan membunuhnya dan memakannya langsung di tempat,” tulis Marco Polo. “Itu adalah kebiasaan yang sangat buruk dan menjijikan.”

  • Perjalanan Marcopolo Dari Italia Ke Sumatera Tahun 1292

Berkunjung ke Indonesia pada 1292, Marco Polo, seorang penjelajah asal Venesia, Italia, sempat menyusuri pesisir Sumatra. Di tengah perjalanannya, dia terkejut karena menyaksikan adanya masyarakat yang mengkonsumsi daging manusia. Ketika berada di kerajaan Dagroian, daerah Pidie (Aceh), Marco Polo menyaksikan masyarakat kanibal di sana yang memakan daging kerabatnya yang sakit parah dan sudah tidak bisa diselamatkan. “Ketika salah satu kerabat mereka jatuh sakit, mereka akan memanggil penyihir untuk datang dan mencari tahu apakah si sakit bisa sembuh atau tidak. Jika penyihir itu berkata bahwa si sakit akan mati, kerabat si sakit akan memanggil orang tertentu yang secara khusus membunuh si sakit.

Ketika dia sudah mati, mereka akan memasaknya. Kemudian para kerabat akan berkumpul dan menyantap seluruh badan orang itu,” tulis Marco Polo, “Para Kanibal dan Raja-raja: Sumatera Utara pada 1290-an,” dimuat dalam Sumatera Tempo Doeloe karya Anthony Reid. “Menurut kepercayaan mereka,” catat Marco Polo, “jika ada satu bagian saja yang tertinggal, bagian tersebut akan mengeluarkan cacing-cacing yang akan mati kelaparan. Bersamaan dengan kematian cacing-cacing itu, jiwa orang mati tadi akan mendatangkan dosa besar dan kesengsaraan. Itulah sebabnya mereka menyantap seluruh tubuh orang mati tadi.”

Kanibalisme di Nusantara berangsur-angsur menghilang setelah pada 1890 pemerintah kolonial Belanda melarang segala bentuk kanibalisme Hindia Belanda.

Apa Yang Menyebabkan Orang Melakukan Kanibalisme

l

Pasti banyak dari kamu yang bertanya, apasih yang memicu seseorang bisa melakukan hal keji seperti itu. Kalau kamu berfikir mereka melakukan kanibalisme karena keterpaksaan, kamu salah besar. Karena pada faktanya mereka melakukan hal tersebut dalam kondisi yang benar-benar sadar. Berikut adalah beberapa faktor yang bisa menyebabkan seseorang melakukan tindakan kanibalisme :

  • Punya kepribadian psikopat

Orang yang kanibal mungkin berwajah biasa saja layaknya manusia normal pada umumnya. Di balik wajah tersebut, mereka sebenarnya memiliki kepribadian psikopat. Mereka bisa makan daging korbannya dengan nikmat. Rasa memuaskan juga terwujud.

Beberapa kanibal juga menderita psikotik–gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan individu menilai kenyataan yang terjadi, misal halusinasi. Pada kasus Richard Trenton Chase, yang seorang pembunuh berantai, ia minum darah korbannya.

Richard percaya alien bisa mengubah darahnya menjadi bubuk. Richard ternyata penderita skizofrenia paranoid. Sementara itu, kebanyakan kanibal tidak psikotik. Mereka sangat tahu apa yang dilakukan. Kanibal juga kesepian dalam hidup. Pelampiasan pun dengan memakan daging sesamanya.

  • Fantasi seksual

Sebelum membunuh dan memakan korban, kanibal membayangkan fantasi seksual. Bahwa memotong daging secara seksual itu sangat menarik. Bayangan daging yang dipotong-potong dari tubuh korban membuat diri mereka orgasme.

Kanibal sangat menikmati proses memotong atau menguliti daging manusia. Ini juga membuat mereka merasa sangat kuat dan mampu melakukan sesuatu terbilang jarang dilakukan manusia lainnya.

Adanya fantasi seksual menghasilkan euforia, yang mengaktifkan pusat kesenangan di otak. Tiap potongan daging manusia membuat perasaan manusia kanibal menjadi lebih baik.

  • Korban menjadi ‘miliknya’

Bagi kanibal yang terisolasi dan kesepian. Memakan daging manusia adalah cara mengisi kekosongan dalam hidup. Membunuh dan memakan korban sebagai bukti, kanibal tidak pernah sendirian lagi.

Mereka beranggapan, korban adalah ‘miliknya’ dan bisa bersamanya tiap saat. Ini membantu kanibal mempertahankan rasa kontrol atas hidupnya. Korban pun menjadi bagian dari diri kanibal, dilansir dari Psychology Today.

Untuk melihat seseorang yang akan berubah menjadi kanibal sangat sulit. Kemungkinan tanda-tanda di masa remaja, seperti membunuh hewan kecil dan minum darah. Namun, kanibal biasanya berusaha keras untuk menyembunyikan perilaku ini.

Orang dengan kecenderungan psikopat yang tertarik pada darah dan kematian selalu menjadi perhatian. Mereka lebih suka meluangkan waktu untuk memusatkan perhatian pada darah dan pembunuhan lainnya.

Kanibalisme Menurut Ahli Terapi

ll

Seorang ahli terapi, Karen Hylen dari Summit Malibu Treatment Center di California, Amerika Serikat, mencoba untuk mengungkap misteri yang ada dibalik perilaku orang yang melakukan kanibalisme.

Menurut Karen, “Mereka yang melakukan tindak kanibalisme dengan memakan daging sesama manusia bukanlah orang gila tapi mereka cenderung ke arah psikopat karena sebenarnya mereka sadar dalam melakukan tindakan itu dan mereka tahu apa yang mereka lakukan.”

Karen juga menambahkan kalau alasan yang tepat untuk kanibalisme adalah sakit pada jiwanya yang menyebabkan ketagihan untuk melakukan kanibalisme terus-menerus.

Hal ini dinilai sama dengan orang-orang pecandu narkoba yang sekali merasakan enaknya obat-obatan tersebut, kemudian otak mereka akan memberi perintah di dalam hasrat jiwa mereka untuk mencari kenikmatan seperti yang di dapat dari mengonsumsi obat-obat tersebut.

Demikian pula halnya dengan para kanibal yang dijumpai beberapa waktu belakangan ini. Awalnya di otak mereka hanyalah sebuah fantasi tentang bagaimana rasanya jika mereka melakukan hal yang sama seperti apa yang ada di film-film horor. Pemikiran itu memicu diri mereka untuk memenuhi hasrat ingin tahunya sehingga mereka mulai mencari cara untuk mencoba melakukan hal tersebut.

Sekali mereka mencoba dan merasa puas karena telah melakukan apa yang ada di dalam bayangan mereka, maka berikutnya otak mereka akan mengulang kenikmatan ketika mereka makan daging orang lain sehingga munculah hasrat untuk melakukannya lagi, setelah mereka berhasil makan daging orang lagi, maka mereka merasa puas kembali. Hal ini akan terus berkelanjutan seperti itu.

Jadi, tidak ada obat dan jenis terapi yang cukup untuk mengobatinya karena orang yang melakukan kanibalisme ini sudah tidak lagi memiliki simpati terhadap orang lain. Karena yang terpenting bagi mereka adalah pemuasan keinginan mereka untuk memakan daging orang.

Mungkin memasukkan para kanibal tersebut ke tempat rehabilitasi khusus untuk mengikuti serangkaian pemulihan pola pikir dan cara berpikir, sehingga otak mereka kembali berpikir benar dan mempengaruhi kejiwaan mereka untuk kembali berperilaku normal, bisa dilakukan sebagai salah satu cara untuk meredam tindak kanibalisme yang semakin santer terdengar.

Mengerikan sekali ya membayangkan jika di sekitar kita ada orang yang mengidap kanibalisme. Dan menurut berita yang beredar juga katanya kanibalisme bisa terjadi pada orang yang sering merasa kesepian dalam hidupnya. Karena seperti yang sudah dijelaskan di atas, jika merasa kesepian, pelaku akan melakukan tindakan kanibalisme untuk menutupi rasa kesepiannya. Dan sampai sekarang pun belum ada pengobatan yang tepat untuk kanibalisme. Dengan melakukan rehabilitasipun hasilnya masih “mungkin”.

Semoga kita terhindar dari tindakan kanibalisme ini dan juga semoga kanibalisme segera hilang dari kehidupan dunia. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah membaca.

Related posts