Becak, Sejarah Perkembangan Dan Jenisnya

becak

Berbicara tentang becak, siapa sih yang tidak tahu tentang kendaraan yang satu ini. Alat transportasi yang satu ini bisa dikatakan salah satu kendaraan yang paling banyak digunakan di kota-kota besar pada jaman dulu. Bahkan, becak masih ada dan masih digunakan sampai sekarang. Di Indonesia, khususnya Kota Medan, Becak telah dimodifikasi dengan sepeda motor dan biasa disebut Betor yang menjadi ikon tersendiri bagi kota Medan.

Tak bisa dipungkiri lagi, pasti kita semua pernah menggunakan kendaraan tradisional yang satu ini. Kendaraan yang dikemudikan oleh satu orang supir yang mengendarainya. Yah, walaupun tidak sesering dulu karena pada saat sekarang ini becak sudah banyak digantikan oleh kendaraan bermotor dan juga ditambah lagi sekarang ini sudah banyak fasilitas transportasi online yang lebih nyaman sehingga orang-orang sudah mulai meninggalkan becak.

Untuk itu, dalam artikel ini saya akan membahas tentang sejarah perkembangan becak dan jenis-jenis becak. Untuk lebih jelasnya, silahkan simak ulasannya di bawah ini.

Sejarah Perkembangan Becak

“Perjalanan hidup” becak berawal di Jepang pada abad 19. Lebih tepatnya lagi, prototipe becak muncul di Yokohama pada 1865. Tapi bukan orang Jepang yang menciptakannya. Saat itu Jepang telah membuka kembali negerinya bagi orang-orang Barat dan sebagian besar kebudayaan Barat diperkenalkan pertama kali di Yokohama ini. Yokohama yang sebelumnya hanya desa para nelayan berkembang pesat seiring dengan semakin besarnya intensitas perdagangan internasional melalui kota ini.

Asal Usul Sejarah Becak ini sebenarnya juga terjadi dengan tidak disengaja. Pada jaman dahulu kala tahun 1869 di Jepang ada seorang pria Amerika bernama Goble yang menjabat pembantu di Kedutaan Besar Amerika Serikat. Waktu itu dia sedang berjalan-jalan untuk menikmati pemandangan di Kota Yokohama. Pria tersebut memiliki seorang istri yang sangat dicintainya, kemudian dia berfikir betapa indahnya jika bisa mengajak istrinya untuk ikut menikmati pemandangan itu.

Namun yang terlintas difikiranya saat itu adalah bagaimana caranya agar istri yang dicintainya itu tidak lelah / capek jika harus ikut berjalan dengannya. Tentu yang dibutuhkan adalah sebuah kendaraan / alat transportasi, tapi bagaimana jika hanya butuh untuk menarik satu orang saja? Pastinya tidak perlu menggunakan seekor kuda, tapi cukup ditarik manusia saja.

Kemudian Goble mulai menggambar design kendaraan yaitu sebuah kereta kecil tanpa atap diatasnya, bentuknya sangat sederhana sekali. Dia mengirimkan gambar rancangan kereta kecil tersebut ke sahabatnya yang bernama Frank Pollay. Pollay membuatnya sesuai dengan rancangan Goble lalu membawanya ke seorang pandai besi bernama Obadiah Wheeler. Dari gambar yang telah disempurnakan itu kemudian dibuatlah bentuk nyata sebuah kereta kecil yang sederhana dan cukup hanya untuk ditarik seorang manusia saja. Orang-orang Jepang yang melihat kereta kecil itu menamakannya “Jinrikisha”. “Jin” artinya “Orang”, “Riki” artinya “Tenaga”, dan “Sha” artinya “Kendaraan”, yang kalau digabung artinya “Kendaraan Tenaga Manusia”.

Tapi pada tahun 1950-an kereta yang ditarik manusia ini mulai menghilang di Jepang. Dan pada tahun 1900-an Jinrikisha akhirnya diketahui juga oleh masyarakat Tiongkok dan dalam waktu singkat dikenal sebagai kendaraan pribadi kaum bangsawan dan kendaraan umum di Tiongkok. Kendaraan ini dalam bahasa Inggris diberi nama Rickshaw dan penariknya dinamakan Hiki. Namun mulai 1970, para aktivis kemanusiaan melarang Rickshaw beroperasi di seluruh jalan-jalan di negeri Tiongkok.

Sejarah Perkembangan Becak Di Indonesia

Sama seperti Awal mula becak, tak jelas juga kapan becak dikenal di Indonesia. Lea Jellanik dalam Seperti Roda Berputar, menulis becak didatangkan ke Batavia dari Singapura dan Hongkong pada 1930-an. Jawa Shimbun terbitan 20 Januari 1943 menyebut becak diperkenalkan dari Makassar ke Batavia Akhir 1930-an. Ini diperkuat dengan catatan perjalanan seorang wartawan Jepang ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Makassar.

Dalam catatan berjudul “Pen to Kamera” terbitan 1937 itu disebutkan, becak ditemukan orang Jepang yang tinggal di Makassar, bernama Seiko-san yang memiliki toko sepeda. Karena penjualan seret, pemiliknya memutar otak agar tumpukan sepeda yang tak terjual bisa dikurangi. Dia membuat kendaraan roda tiga, dan terciptalah becak.

Becak setelah berkembang di Batavia/Jakarta kemudian berkembang ke Surabaya pada tahun 1940, Jawa Shimbun terbitan 20 Januari 1943 menyebut becak diperkenalkan dari Makassar ke Batavia akhir 1930-an. Pasca perang, ketika jalur dan moda transportasi kian berkembang, becak tetap bertahan. Bahkan ia menjadi transportasi yang menyebar hampir di seluruh Indonesia. Pada pertengahan hingga akhir 1950-an ada sekira 25.000 hingga 30.000 becak di Jakarta. Jumlah becak membengkak dan pada tahun 1966 jumlah becak ada 160 ribu –jumlah tertinggi dalam sejarah.

4

Gubernur Ali Sadikin mengeluarkan aturan mengenai larangan total angkutan yang memakai tenaga manusia, membatasi beroperasinya becak, dan mengadakan razia mendadak di daerah bebas becak. Kebijakan serupa dilanjutkan oleh gubernur-gubernur berikutnya: Suprapto, Wiyogo Atmodarminto, Suprapto, dan Sutiyoso.

Becak dianggap biang kemacetan, simbol ketertinggalan kota, dan alat angkut yang tak manusiawi. Di sisi lain, becak juga mulai menghadapi pesaing dengan kehadiran ojek motor, mikrolet, dan metromini. Pada 1980, misalnya, pemerintah mendatangkan 10.000 minica (bajaj, helicak, minicar) untuk menggantikan 150.000 becak.

Pemerintah ketika itu memprogramkan para tukang becak beralih profesi menjadi pengemudi kendaraan bermotor itu. Bahkan pemerintah menggaruk becak dan membuangnya ke Teluk Jakarta untuk rumpon, semacam rumah ikan. Karena sulit, Gubernur Suprapto sampai bilang: “becak-becak akan punah secara alamiah.”

Jenis – Jenis Becak Yang Ada Di Indonesia

Seperti yang kita tahu, masyarakat di Indonesia sendiri tidak terlepas dari yang namanya becak. Berikut adalah jenis-jenis becak yang ada di Indonesia :

1. Becak Jawa

Becak Jawa merupakan becak yang pada umumnya sering kita lihat. Becak dengan pengemudi berada di belakang kursi penunmpang menggunakan sepeda dan kursi penumpang dapat ditumpangi oleh sedikitnya dua orang.

2. Becak Siantar

Berbeda dengan becak pada umumnya, Becak Siantar (BSA) ini dikemudikan menggunakan motor yang terletak di sebelah kanan kursi penumpang. Becak ini ditarik menggunakan motor tua bermesin 350-500 cc. Becak ini banyak yang menggunakan sepeda motor buatan Inggris produksi tahun 1941, 1948 dan 1952. Namun saat ini, Becak Siantar sudah jarang ditemui bahkan sudah masuk ke dalam benda-benda peninggalan bersejarah.

3. Becak Dayung Medan

Becak dayung yang banyak ditemui di Medan, Sumatera Utara ini sama seperti Becak Siantar. Tetapi, becak dayung menggunakan sepeda dan mengandalkan tenaga manusia untuk mengayuhnya. Becak seperti ini juga dapat ditemui di Singapura dan Malaysia.

4. Becak Makassar

Becak Makassar berbeda dengan becak pada umumnya yang bisa ditumpangi oleh sedikitnya dua orang. Namun, becak ini justru hanya bisa ditumpangi seorang saja. Di Makassar, Perhimpunan Hotel dan Terstoran Indonesia (PHRI) melakukan penyuluhan kepada para pengemudi becak mengenai pelatihan tata krama dan tata cara berkonumikasi dalam melayani wisatawan. Hal tersebut guna menarik wisatawan manca negara.

5. Betor Gorontalo dan Medan

Bentor atau becak motor merupakan kendaraan khas masyarakat Gorontalo. Sesuai namanya, becak di Gorontalo ini menggunakan tenaga mesin sepada motor yang terletak di belakang kursi penumpang. Sepeda motor yang digunakan adalah jenis bebek. Uniknya, bentor ini dapat ditumpangi hingga 5 orang, lho.

Selain Gorontalo, Medan juga dikenal dengan ciri khas betornya. Hampir di seluruh kota Medankita akan menemui kendaraan yang dinamai betor ini.

Nah, itulah sejarah singkat dari becak dan juga jenis-jenisnya. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan kita semua. Terima kasih sudah membaca.

Related posts